Dengan ketidakpastian ekonomi yang sering kita alami saat ini, kita bisa merasa bahwa kehidupan tidak bisa berjalan sesuai dengan rencana kita. Target penjualan yang tidak tercapai, target KPI yang juga tidak terpenuhi, harapan promosi yang hilang karena menciutnya organisasi adalah fakta-fakta umum terjadi. Bagaimana kita bereaksi terhadapnya?
Banyak diantara kita menjadi orang-orang yang suka mencerca, menyalahkan keadaan,menyalahkan manajemen, ataupun juga teman sekitar. Mungkin hal ini juga dilatarbelakangi oleh keenganan kita mengelurkan tenaga ekstra, untuk mengubah keadaan.
Namun, bukankah dalam kesaharian kita memang sering menemukan hal-hal yang tidak disangka-sangka, atau diluar rencana? Ada dua pilihan yang kita bisa ambil menghadapi situasi-situasi macam ini. Kita bisa mengenakan victim mentality dengan bersikap kecut, meratapi keadaan, menganggap hidup ini tidak fair, tetapi tidak berbuat apa-apa. Atau kita bisa mencontoh cara seorang olahragawan menghadapi tantangan bahkan kekalahan dalam pertandingan. Prasyarat menjadi atlet adalah memiliki kekuatan fisik yang prima. Namun demikian, mentaliats bertandingnyalah yang paling menemtukan siapa yang akan menjadi juara.
Atlet-atlet terbaik selalu mempunyai hasrat untuk menjadi yang terbaik. Tidak hanya menjadi yang terbaik didunia, tetapi juga mengalahkan prestasi terbaik mereka sendiri. Tak ada olahragawan sukses yang takut bersaing atau bertanding. Mereka mengganti taktik, mencari jalan untuk mengatasi kekalahannya, dan mencoba cara-cara baru, yang belum pernah dilakukan. Mereka tak berhenti menaikkan standar mereka. Players mentality, inilah yang perlu kita adaptasi. Perbedaanya terletak pada interpretasi dan respons mereka terhadap situasi-situasi yang dihadapi. Tidak ada pilihan mengeluh, apalagi menyalahkan dan menjelekkan orang lain.
Menghentikan “victim mentality”
Permasalahan mendasar dari victim mentality adalah keyakinan bahwa nasib kita lebih bnyak ditentukan oleh hal hal eksternal, ketimbang diri kita sendiri. Saking parahnya mentalitas ini bahkan orang bisa menyalahkan pemerintah atas penghasilannya yang terbatas dan melupakan kebiasaan-kebiasaan buruknya yang justru paling pertama harus diubah. Kebiasaan tidak take charge atas apa yang dikerjakan dan tidak mempunyai energi untuk melakukan perubahan adalah masalah utamanya. Akibatnya? Kita menjadi pasif dan putus asa. Ini betul-betul menghambat kita untuk maju.
Namun, kita bisa beralih dari mentalitas korban ini dengan melakukan latihan sederhana.
1. Cobalah berhenti mengeluh, bergosip, menghakimi, dan besumpah serapah untuk keadaan yang tidak menguntungkan. Kata-kata buruk yang kita lontarkan secara tidak sadar juga mempengaruhi pemikiran dan prilaku kita menjadi negatif.
2. Pilihlah kata-kata anda yang mengarah pada analisis akar masalah, menemukan solusi, dan pandangan yang positif terhadap situasi. Jika hal ini dilakukan secara rutin, anda akan mampu bersikap tenang dan konstruktif.
Pilihannya lagi-lagi berpulang pada anda.
Berinvestasi pada “continous growth”
Terlepas dari unsur nasib atau suratan takdir, kita memang perlu menanamkan dalam pikiran kita bahwa kitalah yang bertanggung jawab terhadap prestasi kita. Kita perlu mengubah mental kita, bila inging survive di zaman yang penuh perubahan ini. Percayalah pada kekuatan sendiri untuk melakukan perubahan.memang mengeluh dan menyalahkan adalah langkah yang kelihatannya sederhana dan mudah dilakukan. Namun, mengambilkendali terhadap situasi akan memberi manfaat yang jauh lebih banyak. Berikut ini caranya.
Fase 1: ubah diri kita sendiri
Kitabisa memulai dengan hal-hal fisik, seperti berpakaian lebih baik sehingga penampilan lebih menarik. Kita juga bisa mengurangi kemalasan dan memaksakan diri untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baru. Teman saya, yang sudah ditolak perempuan beberapa kali pada akhirnya berniat mengubah diri dengan cara mengganti cara berpakaiannya, mencukur rapi rambutnya, melatih beberapa topik pembicaraan yang kira kira dinikmati oleh lawan bicaranya. Perubahan ini tidak menjaminnya untuk mendapatkan banyak teman, tetapi paling tidak sudah membuat perubahan positif bagi dirinya.
Fase 2: ubah kondisi kita
Tanpa kita rasakan, kita sering berada dalam lingkaran sosial yang kurang sehat, baik itu teman kerja, kelompok arisan, atau teman grup WA. Selain mengubah kebiasaan kita, kita pun bisa memutuskan untuk keluar dari kelompok-kelompok, yang menyebar hawa negatif ini. Suami teman saya memaksa istrinya untuk keluar dari arisan tertentu yang selalu diadakan di hotel-hotel berbintang lima, karena biasanya sepulang dari pertemuan itu si istri terpaku pada gosip teman-temannya. Ketika si istri keluar, ia sendiri merasa lega bahwa ia tidak lagi berada dilingkungan yang tidak kondusif itu.
Fase 3: ubah cara bermasyarakat
Cara kita bermasyarakat berkembang secara perlahan-lahan. Bila beberapa tahun yang lalu kita tahu bahwa berbicara secara tatap muka sambil menatap ponsel itu tidak sopan, sekarang hampir semua orang melakukannya. Bial kita tahu bahwa keranjingan menatap ponsel itu sesuatu yang membuat kita berubah dan tidak sehat, sebaiknya kita lebih aktif mengatur penggunaanya, dan tidak bergabung dalam kelompok-kelompok di soial media secara berlebihan sehingga tidak terlalu banyakpedan yang masuk.
Kitalah yang mengubah diri kita. Kita pula yang mengubah cara kita terjun ke masyrakat. Dengan demikian, kita mampu menjadi atlet kehidupan yang andal.
Sumber : Kompas