“Orang orang diperusahaan kita ini harus bisa mikir,” kata seorang direktur. “coba lihat! Masalah terus muncul tiap hari dan tidak pernah selesai. Bagaimana kita bisa maju kalau terus begini?” itulah pesan direktur perusahaan, yang kemudian diterjemahkan menjadai inisiatif untuk melaksanakan program pelatihan pengembangan kompetensi berpikir analitis dan memecahkan masalah. Pelatihan ini bukan hanya untuk divisi tertentu, tetapi untuk semua divisi, dimulai dari level penyelia ke atas. Karena target peserta yang banyak ini, perusahaaan itu memutuskan untuk melakukannya lewat e-learning.
Setelah kembali ke mejanya, Aditya, yang ditugaskan untuk merancang program tersebut, mulai melakukan riset. Ia melakukan pencarian dengan kata kunci “pelatihan berpikir analitis” dan ternyata hasilnya lebih 500 ribu hits! Ia mencoba berbagai artikel terkait. Dan ternyata semakin membaca, ia jadi semakin binggung karena ada begitu banyak pandangan yang berbeda! Ia jadi bertanya-tanya dalam mengenai 2 hal.
1. Apakah kemampuan berpikir anallitis bisa diajarkan?
2. Sekalipun bisa diajarkan, apakah e-learning dapat efektif untuk mengembangkan kompetensi seperti ini?
Sebelum membaca lebih lanjut, bagaiamana jawaban anda terhadap kedua pertanyaan di atas? Banyak riset dilakukan untuk menjawab pertanyaan pertama, dan jawabannya adalah “tergantung”, yaitu tergantung pada perancangan program itu sendiri.
Masalah pertama dari keinginan direktur di atas adalah mengembangkan suatu program e-learning tentang berpikir analitis dan memecahkan masalah untuk semua divisi dalam organisasi. Ini adalah sasaran yang tidak realistis. Setiap divisi menghadapi situasi dan permasalahan yang berbeda-beda. Tidak mungkin bagi Aditya untuk merancang sebuah e-learning yang dapat menjawab semua permasalahan di semua divisi. Sebaliknya, program e-learning harus dibuat secara spesifik untuk setiap divisi sehingga dapat relevan bagi orang yang mempelajarinya.
Selanjutnya, Aditya perlu menyadari bahwa mengajarkan kompetensi berpikir analitis dan memecahkan masalah adalah hal yang berbeda dengan mengajarkan orang-orang untuk mengikuti sebuah prosedur atau SOP tertentu. Dalam pelatihan seperti ini, seorang peserta perlu dihadapkan dengan sebuah situasi yang riil, seperti yang biasa mereka hadapi dalam pekerjaan, lalu diminta untuk menganalisis situasi tersebut, dan menarik kesimpulan. Sebaiknya peserta juga diberikan kebebasan untuk mencoba berbagai alternatif untuk memecahkan masalah, lalu melihat sendiri hasilnya.
Jadi, dengan perancangan program yang tepat, kemampuan berpikir dapat ditingkatkan lewat pelatihan. Lalu, bagaimana dengan jawaban terhadapa pertanyaan kedua? Metode e-learning sudah sering digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara efektig. Contohnya, sebuah perusahaan otomotif menerapkan e-learning untuk melatih para teknisi melakuakn troubleshooting. Peserta menerima work order yang menjelaskan gejala kerusakan pada sebuah mobil. Lalu, ia harus menggunakan peralatan virtual untuk mengidentifikasi sumber masalahnya. Setelah selesai, ia dapat membandingkan solusinya sendiri dengan solusi yang disarankan.
Dari contoh diatas, kita melihat bahwa metode pembelajaran e-learning memiliki beberapa manfaat dibandingkan dengan beberapa metode pembelajaran tatap muka. Yang pertama adalah simulasi secara virtual yang dapat dilakukan lebih bervariasi dibandingkan simulasi secara fisik. Berbagai parameter dalam simulasi virtual dapat diubah-ubah secara mudah, yang tentu saja memerlukan biaya yang sangat mahal jika simulasi itu dilakukan secara fisik. Selain itu, peserta dapat melakukan eksperimen atau mencoba-coba sendiri secara aman tanpa resiko yang tinggi. Justru lewat proses inilah mereka dapat melihat dampak dari tindakan mereka terhadap hasil yang diharapkan sehingga membuat pelatihan itu menjadi efektif.
Referensi: e-learning and the science of instruction oleh Ruth Colvin Clark dan Richard E Mayer, pfeiffer (2008).
Sumber : Kompas